Minggu, 29 September 2013

BAB 5 PROSES KOLONIALISME BARAT DI INDONESIA


BAB 5

Proses Kolonialisme Barat di Indonesia

A. Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia sampai terbentuknya kekuasaan kolonial

Bangsa Barat datang ke Indonesia karena Indonesia memiliki keanekaragaman kekayaan alam. Bangsa Barat mencari rempah-rempah ke Indonesia

1. Proses Kedatatngan Bangsa Barat
Bangsa Barat yang pertama kali datang ke Indonesia adalah portugis. Setelah itu disusul oles spanyol, inggris dan belanda.

1.1 Portugis

Pada tahun 1511 portugis dibawah kepemimpinan Alfonso d'Albuquerque berhasil menguasai melaka. Setelah ditaklukan portugis, pusat-pusat perdagangan baru bermuncul seperti aceh dan banten. Pada tahun 1512 Alfonso mengirim ekspedisi ke maluku, Kep. Aru, Banda, dan Ambon. Pada tahun 1522 dibawah pimpinan Antonio de Britto mendirikan banteng Saint John di Maluku.

1.2 Spanyol

Setelah Magelhaens terbunuh di Fhilipina. Pelayaran spanyol dilanjutkan oleh Del Cano. Del Cano tiba di Maluku pada tahun 1521. Spanyol Memusatkan kedudukannya di Tidore kedatangan spanyol ditentang oleh pihak portugis karena spanyol dianggap melanggar perjanjian Todesillas. Karena menurut Portugis, Maluku berada di garis timur Todesillas yang menjadi wilayah Portugis.

1.3 Belanda
Belanda merupakan negara terlama yang menguasai Indonesia. Awal kedatangan mereka adalah mencari rempah-rempah.

1.4 Inggris
Pada tahun 1850 terjadi permusuhan antara Portugis-Spanyol dan Belanda-Inggris. Pada tahun 1600 para pelaut dengan inggris tiba di India dan mendirikan persekutuan dagang yang disebut dengan East Indische Compagnie (EIC)

Tujuan Bangsa Barat ke Indonesia

  1. Gospel, untuk menjalankan tugas suci, yaitu menyebarkan agama kristen. 
  2. Gold, mencaari kekayaan. 
  3. Glory, mencari keharuman nama, kejayaan, dan kekuasaan.

2. Awal Perkembangan Pengaruh Barat dan Terbentuknya Kekuasaan Kolonial

2.1 Portugis

Portugis menggunakan cara licik unruk mencapai tujuannya. Contohnya portugis menandai setiap tempat-tempat yang disinggahi dengan Batu Padrao. untuk mengakui tempat itu sebagai kekuasaan portugis, portugis juga memonopoli perdagangaan di Maluku.

2.2 Spanyol

Kedatangan Spanyol di Maluku merupakan kesempatan mereka untuk mengadu domba kerajaan Tidore dan Ternate. Portugis mendukung Ternate dan Spanyol mendukung Tidore.

2.3 Belanda

Pada tanggal 20 Maret 1602, Belanda mendirikan organisasi yang disebut dengan VOC (Vereenigde Oost Indische Compage) Pemimpin VOC terdiri atas 17 orang sehingga disebut dengan Heren Zeventien.

Tujuan VOC adalah

  1. Menghindari persaingan yang tidak sehat diantara sesama pedagang Belanda 
  2. Memperkuan kedudukan Belanda dalam menghadapi persaingan pedagang barat. 
  3. Membantu pemerintah Belanda menghadapi Spanyol. 


Hak Kekuasaan VOC yaitu:


  1. Memonopoli Perdagangan 
  2. Mengadakan Perjajian dengan Raja setempat 
  3. Menbentuk angkatan perang sendiri 
  4. Membuat mata uang sendiri 
  5. Mengangkat pegawai yang dibutuhkan 
  6. Berhak mengumumkan Perang 
Tindakan VOC:
Pieter Both (1610-1614) diangkat sebagai gubernur jendral pertama VOC. Ia berkuasa di Jayakarta di perintah oleh seorang adipati, pangeran Wljayakrama. Awalnya hubungan VOC dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia berjalan Baik. Namun semua memburuk ketika masa pemerintahan J.P Coen (Jan Pieter Coen). Pada tahun 1619 jayakarta jatuh ke tangan VOC. Tepatnya tanggal 30 Mei 1619 Jayakarta berubah nama menjadi Batavia. Nama Batavia digunakan untuk mengabdikan nama nenek moyang bangsa Belanda, yaitu bangsa Bataaf.

(Jan Pieter Coen)

VOC juga membangun beberapa benteng yaitu:
  1. Benteng Victoria di Ambon 
  2. Benteng Duurstede di Saparua 
  3. Benteng Rotterdam di Makasar 
  4. Benteng Orange di Ternate 
  5. Benteng Nassau di Banda 
Untuk mengawasi pelaksanaan monopoli di Maluku VOC mengadakan kegiatan Pelayaran Hongi. VOC di bubarkan tanggal 31 Desember 1799. Karena banyak penjabat yang korupsi dan utang VOC semakin besar karena biaya perang.


B. Perkembangan Kebijakan dan Tindakan Pemerintah Kolonial

1. Kerja Rodi masa pemerintah Daendels

Pada tahun 1808 Louis Napoleon mengirim Marsekal Herman William Daendels untuk menjadi gubernur jendral Indonesia. Tugas Daendels yaitu:
  1. Memperkuat pertahanan Jawa dari serangan Inggris 
  2. Mengumpulkan dana sebanyakbanyaknya untuk biaya perang melawan Inggris 
  3. Memperbaiki kondisi keuangan pemerintah karena kas yang kosong. 
Kebijakan Daendels yang paling banyak memakan korban adalah jalan Raya Anyer sampai Penarukan. Pada masa itu Deandels dipanggil dengan nama Tuan Guntur karena bersifat kaku dan kejam. Cara lainnya yaitu Daendels mencetak uang kertas dalam jumlah besar dan menyita uang di bank dan pegadaian serta menjual tanah pada pihak swasta.

(Herman William Daendels)

2. Sistem Sewa Tanah Pada Masa Raffles
Pengganti Daendels adalah Yanssens. Namun pada tahun 1811 Batavia berhasil direbut oleh Inggris. Yansses menyerah dengan ditandatanganinya kapitulasi Tuntang atau Perjanjian Tuntang. untuk mengatur pemerintahannya. Lord Minto mengangkat Thomas Stamford Raffles.
3. Sistem Sewa Tanah Pada Masa Van Den Bosch
Pada masa pemerintahanna, ia menerapkan sistem Culturstelsel pada tahun 1930. dalam pelaksanaanya sistem kerja paksa banyak terjadi penyelewengan contohnya: Petani masih harus membayar pajak, tanah yang digunakan untuk sistem tanam paksa adalah tanah yang subur, waktu petani banyak tersita karena sistem tanam paksa sehingga waktu bertani terbengkalai.


Namun ada sisi positif dari tanam paksa yaitu:

  1. Masyarakat menganal jenis tanaman baru seperti Indihgo dan Kopi. 
  2. Dikembangkannya saluran Irigasi 
  3. Daerah mengalami peningkatan produksi Padi 

(Van Den Bosch)

4. Sistem Liberal dan Penanaman Modal Swasta
Pemerintah belanda berdebat karena masalah sistem tanam paksa. Ada yang mendukung dan ada yang menolak, yang mendukung adalah para penjabat, pegawai pemerintah, dan perusahaan yang diuntungkan. Sedangkan yang menolak yaitu: tokoh yang benar-benar kasihan terhadap Indonesia seperti tokoh agama dan filsuf dan kolompok menengah seperti pengusahaan swasta dan kaum liberal.

Dukungan penghapusan sistem tanam paksa semakin kuat setelah pada tahun 1860 di Belanda terbit 2 buku yaitu:

  1. Max Havelaar yang ditulis oleh Douwes Dakker dengan nama samaran Multatuli 
  2. Suiker Contracten yang ditulis oleh Frans Van de Pute 
Akhirnya pada tahun 1860 sistem tanam paksa dihapuskan, tanaman teh dan nila pada tahun 1865, dan pada tahun 1870 semua tanaman kecuali Kopi di Priangan (Priangerstelsel) telah bebas dari sistem tanam paksa. Dengan demikian para pengusaha mulai menanamkan modalnya. Dengan begitu munculhan UU yang mengatur tentang penggunaan tanah contohnya:
1. Undang-undang Agraria Tahun 1870
Undang-undang ini menetapkan bahwa perusahaan perkebunan dapat menyewa tanah selama 75 tahun, dan penduduk dilarang menjual tanah kepada orang asing.
2. Undang-Undang Gula Tahun 1870
Undang-undang ini menetapkan bahwa perusahaan gula milik pemerintah akan ditutup dan diganti oleh perusahaan swasta.

C. Munculnya Berbagai Perlawanan

1. Perlawanan Terhadap Portugis

1.1 Malaka dan Demak angkat Senjata

Pada tahun 1512 timbul perlawanan di Malaka. Perlawanan dipimpin oleh Pate Kadir. Lalu Demak pun menyerang Portugis dibawah kepemimpinan Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor)

1.2 Perlawanan rakyat Aceh
Aceh dan Demak pada tahun 1513 meluncurkan serangan ke Malaka. Untuk meghadapi Portugis langkah-langkah yang di ambil Aceh antara lain:

  1. Kapal Aceh berlayar ke Timur Tengah dilengkapi dengan Meriam dan sejumlah prajurit 
  2. Aceh meminta bantuan persenjataan, militer, dan ahli perang dari Turki dipenuhi pada tahun 1567. 
  3. Aceh juga mendatangkan bantuan dari Kalikut dan Jepara. 
1.3 Maluku Bergolak
Pada tahun 1529 terjadilah perang antara portugis dengan kerajaan Tidore. Portugis dibantu oleh kerajaan Ternate dan Bacan sedangkan Tidore dibantu oleh Spanyol. Sultan Hairun dikhianati dan lalu dihukum mati. Itulah yang menyebabkan rakyat Tidore marah dan menyerang Portugis habis-habisan

2. Perlawanan Terhadap VOC

2.1 Maluku kembali angkat senjata
Perlawanan terjadi dibeberapa daerah seperti: daerah rakyat hiu, Ambon, Ternate, Jailolo, dan sebagainya

2.2 Perlawanan Makasar
VOC ingin menguasai perdagangan di Makasar untuk itu COC mengusulkan hal berikut kepada kerajaan Gowa:

  1. Sultan Gowa bersama VOC menyerang Banda 
  2. Kerajaan Gowa hendaknya tidak menjual rempah-rempah ke Portugis 
  3. Gowa dilarang membeli rempah-rempah dari Portugis karena tidak disetujui terjadilah perang antara VOC dengan Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanudin 
2.3 Perlawanan Trunajaya 
Kerajaan Mataram mengadakan perjanjian perdamaian dengana VOC. Isi perjanjian tersebut yaitu :
  1. Mataram mengakui kekuasaan VOC di Batavia 
  2. Mataram boleh berdagang di seluruh Indonesia kecuali Maluku 
  3. VOC mengirim duta setiap tahun ke Kerajaan Mataram 
  4. Diadakan tukar menukar tawanan peran 
karena Raja Amangkurat bertindak sewenang wenang terhapat rakyat terjadilah pemberontakan Trunajaya yang dipimpin oleh Pangeran Adipati Anom yang mendapat bantuan dari Makassar yang dipimpin oleh Karaeng Galesung.

3. Perlawanan Terhadap Kolonial Belanda

3.1 Perlawanan Di Maluku

( Thomas Matulessy / Pattimura )

Perlawanan terjadi karena Belanda memaksa masyarakat menyerahkan berbagai macam hasil bumi. Pada malam hari tanggal 15 Mei 1817 para pemuda Saparua di bawah pimpinan Pattimura mereka mambakar kapal kapal di pelabuhan Belanda. Namun pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dihukum gantung oleh Belanda

3.2 Perang Padri (1815-1837)

( Tuanku Imam Bonjol )

perang ini tidak lepas dari pertentangan kaum adat dan kaum padri. Pertempuran terjadi karena Belanda menyuruh kaum adat dan padri untuk kerja rodi. Peperangan ini dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol dan mendapat bantuan dari Sentot Alibasah. Namun Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur

3.3 Perang Diponegoro ( 1825 - 1830 )
Pangeran Diponegoro menggunakan taktik gerilya untuk menghadapi Belanda. Namun Belanda menggunakan siasat Benteng Stelsel sehingga Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado. Setelah itu Dipindahkan ke Makassar.


( Pangeran Diponegoro )

3.4 Perang Jagaraga ( 1849 )
Kapal belanda terjebak di buleleng. sesuai hukum tawab karang, kapal itu menjadi milik kerajaan buleleng. lalu terjadilah peperangan dengan Belanda dibawah kepemimpinan Gusti Ketut Jelantik. Perang ini sering disebut dengan Perang puputan ( perang habis habisan ) namun Belanda memenangkan peperangan sehingga seluruh Bali dikuasai Belanda


( Gusti Ketut Jelantik )